Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/u8333639/public_html/ceritadarihutan/system/core/Exceptions.php:271)
Message: Return type of CI_Session_files_driver::open($save_path, $name) should either be compatible with SessionHandlerInterface::open(string $path, string $name): bool, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice
Message: Return type of CI_Session_files_driver::close() should either be compatible with SessionHandlerInterface::close(): bool, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice
Message: Return type of CI_Session_files_driver::read($session_id) should either be compatible with SessionHandlerInterface::read(string $id): string|false, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice
Message: Return type of CI_Session_files_driver::write($session_id, $session_data) should either be compatible with SessionHandlerInterface::write(string $id, string $data): bool, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice
Message: Return type of CI_Session_files_driver::destroy($session_id) should either be compatible with SessionHandlerInterface::destroy(string $id): bool, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice
Message: Return type of CI_Session_files_driver::gc($maxlifetime) should either be compatible with SessionHandlerInterface::gc(int $max_lifetime): int|false, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice
Message: Facebook\FacebookApp implements the Serializable interface, which is deprecated. Implement __serialize() and __unserialize() instead (or in addition, if support for old PHP versions is necessary)
Indonesia merupakan negara yang menduduki peringkat ketiga di dunia dengan kepemilikan hutan hujan tropis terbesar setelah Brazil pada urutan pertama dan Republik Demokratik Kongo di urutan kedua (Lipu, 2010). Luasnya hutan di Indonesia meningkatkan besarnya fungsi hutan bagi keberlangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya, sehingga penting bagi manusia untuk menjaga kelestarian hutan di Indonesia. Namun, saat ini kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu bencana yang sering terjadi di Indonesia. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), selama periode Januari-Agustus 2023 indikasi luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sudah mencapai 267.935,59 hektare (ha) dari 125.760.000 ha luas hutan di Indonesia. Hal ini menjadi permasalahan yang serius dan harus segera diatasi.
Kebakaran hutan dan lahan atau yang biasa disingkat menjadi “Karhutla” merupakan salah satu bencana alam yang terjadi akibat dua faktor, yaitu faktor alam dan faktor manusia (Anhar, dkk., 2022). Faktor kebakaran hutan oleh alam disebabkan oleh musim kemarau yang sangat ekstrim akibat dampak dari El-Nino, sedangkan faktor kebakaran hutan oleh manusia disebabkan oleh pengelolaan hutan yang kurang baik, terjadinya illegal loging, pembukaan lahan sembarangan dan lain sebagainya. Terjadinya kebakaran hutan mengakibatkan dampak yang sangat luas, baik dampak untuk lingkungan hidup, dampak bagi manusia, dampak bagi perekonomian, serta dampak sosial dan budaya pada masyarakat.
Dampak kebakaran hutan bagi manusia bisa berupa kesehatan, transportasi, perekonomian, korban jiwa dan lain sebagainya. Bagi manusia yang hidup di dekat daerah hutan dan menggantungkan hidupnya dari hasil hutan, kebakaran menjadi bencana besar untuk mereka. Hal ini dikarenakan sumber utama dalam mencari pangan terdapat di dalam hutan, sehingga apabila hutan terbakar maka akan mempengaruhi kehidupan serta perekonomian masyarakat sekitar. Selain itu, asap yang ditimbulkan dari kebakaran hutan bisa mengancam kesehatan manusia, hal ini dikarenakan asap banyak mengandung senyawa kimia dan partikel berbahaya seperti Karbon monoksida (CO), Sulfur Oksida (SO), Aldehid, Acrolein yang mengakibatkan peradangan pada paru - paru (Wulan & Subagio, 2016).
Dampak kebakaran hutan bagi manusia bisa berupa kesehatan, transportasi, perekonomian, korban jiwa dan lain sebagainya. Bagi manusia yang hidup di dekat daerah hutan dan menggantungkan hidupnya dari hasil hutan, kebakaran menjadi bencana besar untuk mereka. Hal ini dikarenakan sumber utama dalam mencari pangan terdapat di dalam hutan, sehingga apabila hutan terbakar maka akan mempengaruhi kehidupan serta perekonomian masyarakat sekitar. Selain itu, asap yang ditimbulkan dari kebakaran hutan bisa mengancam kesehatan manusia, hal ini dikarenakan asap banyak mengandung senyawa kimia dan partikel berbahaya seperti Karbon monoksida (CO), Sulfur Oksida (SO), Aldehid, Acrolein yang mengakibatkan peradangan pada paru - paru (Wulan & Subagio, 2016).
Panas bumi yang semakin meningkat ini merupakan akibat dari efek rumah kaca yang dapat menimbulkan Global Warming, dimana pemanasan global ini tidak hanya berdampak bagi masyarakat pada wilayah tertentu, melainkan berdampak pada kehidupan di bumi ini. Contoh nyata yang saat ini kita hadapi adalah meningkatnya suhu di Indonesia. Normalnya, suhu di Indonesia berkisar anatara 30°C - 35°C. Namun, pada beberapa wilayah di Indonesia seperti Surabaya, Medan dan Semarang mencapai 39°C. Hal ini tentunya dapat menjadi perhatian utama bagi masyarakat dan pemerintah untuk menyatukan tujuan guna mengurangi Global Warming, sehingga dampak global warming yang saat ini dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tidak berkelanjutan.