Kisah Rimba di Balik Lensa Ala Auzan Zihni Sukaton

Dipublikasikan oleh admin pada 22 Jul 2021

Oleh: Meisya Regina (Sukarelawan Hutan itu Indonesia)

“Sekarang waktunya untuk mendokumentasikan satwa yang berada di Indonesia, selama kita melihat atau mengetahui, mari bersama-sama mendata dan mengenalkan kekayaan alam yang ada, serta mari kita semua bersama-sama menjaga Hutan” - Osa  

Memperingati hari Hutan Hujan Tropis 22 Juni, Hore Hutan bersama Auzan Zihni Sukaton atau akrab di sapa Osa, melakukan bincang-bincang asik melalui live instagram, perihal ragam fauna yang di potret oleh osa serta cerita pejalanan selama menjadi wildlife photographer.

Osa adalah dokter hewan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB), yang sekarang berkegiatan sebagai anggota dari Bogor nature & Wildlife Photography. Osa juga aktif membagikan hasil dokumentasi saat ekspedisinya di laman instagramnya @auzansukaton. Ada alasan menarik alasan Osa menjadi wildlife photographer lho! Simak lebih lengkap yuk.

Osa beranggapan kalau mendokumentasikn satwa itu penting untuk dilakukan, selain untuk keperluan konservasi satwa, juga bisa sebagai bahan edukasi yang menarik dan interaktif. Bagi Osa “Dokumnetasi satwa liar bisa menjadi salah satu bahan dan pengembangan untuk memperkenalkan, memamerkan dan menginformasikan keanekaragaman hayati yang berada di Indonesia, terlebih sekarang banyak orang berkegiatan di rumah, interaksi yang paling sering dilakukan iyalah memegang gadget, nah melalui dokumentasi tersebut tentunya beragam manfaat yang bisa dibagikan, salah satunya dengan memotret dan mempelajari satwa liar ” jelas Osa.

Baca juga: Menciptakan Kampanye Positif Dengan Tampilan yang “Seksi”

Berawal dari bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Osa yang hobi mendaki gunung lalu mulai mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bidang keilmuan di kampusnya yaitu Uni Konservasi Fauna (UKF) pada tahun 2015, yang menghantar Osa menekuni passionnya sebagai wildlife photographer pada tahun 2018 dan saat itu juga Osa sedang melakukan eksplorasi ke Kepulauan Mapia yang berada di Kabupaten Supiori, Provinsi Papua. Lokasinya merupakan pulau-pulau terluar di garis perbatasan Indonesia yang berbatasan dengan dua negara yaitu Palau dan Filipina.

Tentunya sebelum eksplorasi ada banyak hal yang perlu di persiapkan, begitupun dengan Osa saat akan melakukan kegiatan lapangan. Osa membagikan hal-hal unik terkait persiapan yang ia lakukan sebelum melakukan pemotretan satwa liar yang menyenangkan, berupa;

  1. Skill meriset atau studi literatur terhadap satwa liar yang akan dipotret terhadap satwa liar yang akan dijadikan objek;
  2. Modal pengalaman memotret satwa liar;
  3. Sesakali menyesuaikan keadaan sekitar seperti mecoba berkamuflase hingga meminimalkan bau sesuai dengan lokasi pemotretan;
  4. Usahakan untuk mendapatkan izin lokasi dari pihak terkait, terutama di lokasi yang masih terjaga dan minim aktivitas di dalamnya.
Foto kodok merah/bleeding toad (Leptophryne cruentata) hasil jepretan Osa.
Foto raja udang biru/ small blue kingfisher (Alcedo coerulescens

Nah gimana nih sahabat hutan asik bukan perjalanan Osa dalam memotret satwa liar? Ada pesan khusus nih buat kamu terutama yang ingin belajar wildlife photographer!

“Saat menjadi wildlife photographer, penting untuk melakukan persiapan riset atau studi literatur, selalu mengutamakan keselamatan, setelah itu harus berani untuk memulai, memahami medan yang akan dilalui, spot perjumpaan dengan satwa yang akan diabadikan, serta selalu memperhatikan kode etik yang berlaku di lingkungan maupun hutan yang dikunjungi, penting bagi satwa untuk tetap merasa welfare (bebas dari rasa tidak nyaman; bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit; bebas mengekspresikan perilaku normal; bebas dari rasa stress dan tertekan) atau dalam pendekatanya disebut Konsep  Animal Welfare (kesejahteraan  hewan/Kesrawan). Selain itu ingat! kita sedang dihutan pastikan kamu tidak sembrono, berisik dan mengambil apapun dari hutan.”

Baca juga: Ini lho 3 Hutan Kota yang Bisa Kamu Kunjungi di Jakarta

Lalu Osa mengutip tiga butir kode etik petualang yaitu, Take nothing but pictures (jangan mengambil apapun kecuali gambar), Leave nothing but foot print (jangan meninggalkan apapun kecuali tapak kaki atau jejak), dan Kill nothing but time (jangan membunuh apapun kecuali waktu). Nah, dengan bigitu melakukan petualangan alam tetap akan menjaga kelestarian dan lingkungan hidup disekelilingnya. Sehingga hutan tetap terus dapat dinikmati dan dirasakan keindahan dan ke sakralannya.

Jika ingin melihat hasil dokumentasi lainnya dari Osa boleh langsung mengunjungi https://www.inaturalist.org/people/auzansukaton (Adrian).

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Copyright © 2021 Hutan Itu Indonesia. All Rights Reserved.
cross