Laleilmanino Salurkan Donasi untuk Sekolah Pelestari Tradisi dan Hutan di Kalimantan Barat

Dipublikasikan oleh admin pada 24 Oct 2022

Bagi mereka, hutan adalah rumah, sungai adalah darah, dan hutan adalah minimarket gratis.

Jakarta, 24 Oktober 2022 – Setelah sukses mencatatkan single Dengar Alam Bernyanyi sebagai theme song program Y20 2022, platform bagi generasi muda dari semua negara G20 untuk berdialog dan mengajukan solusi atas isu-isu mendesak yang sedang terjadi di dunia, trio Laleilmanino melanjutkan aksi mereka dalam mengajak generasi muda bergerak bersama untuk menjaga hutan demi mencegah dampak perubahan iklim yang semakin parah.

Kali ini Anindyo Baskoro (vokalis RAN), serta Arya Aditya Ramadhya dan Ilman Ibrahim (gitaris dan keyboardist Maliq & D’Essentials) melakukan penyaluran donasi kampanye #DengarAlamBernyanyi. Hasil penjualan merchandise, donasi dari publik dan royalti  dari single yang digarap bersama Chicco Jerikho, Sheila Dara, dan HIVI! untuk memperingati Hari Bumi Sedunia (Earth Day) ini telah terkumpul sebesar 25 Juta rupiah. 

“Terima kasih untuk semua pihak yang mendukung berjalannya karya ini, dan juga untuk Hutan itu Indonesia (HII) yang sejak awal kami membuat lagu ini sudah sangat membantu sekali untuk memberi insights supaya lagu ini benar-benar bernyawa,” kata Nino dalam penyerahan donasi yang berlangsung secara virtual pekan lalu.

Bagi Christian Natalie, Manager Program – Hutan Itu Indonesia, lagu ini selain catchy juga memiliki makna yang dalam. “Pesan tentang selimut polusi yang harus dihajar berhasil disampaikan dengan keren oleh Laleilmanino,” ujar Christian. Polusi yang menyelimuti Bumi dengan polutan membuat planet tempat kita tinggal semakin panas. Seperti selimut yang menutupi tubuh yang sedang gerah, maka tubuh akan semakin tidak nyaman, kan? Bumi yang kepanasan menyebabkan perubahan iklim, yang dampaknya akan semakin parah, jika tidak segera diatasi. 

Sejalan dengan pesan dalam lagu ini, HII pun merekomendasikan Laleilmanino untuk mendonasikan hasil kampanye ini kepada Sekolah Adat Arus Kualan yang memiliki 4 sekolah informal gratisberoperasi di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

F Deliana Winki, penggerak Sekolah Adat Arus Kualan Deliana mengungkapkan rasa bahagianya. “Saya berharap dukungan ini bisa bermanfaat bagi anak-anak dan orang-orang muda yang ingin mengembangkan adat, budaya serta menjaga hutan,” ujarnya.

Gerakan akar rumput di Arus Kualan

Martison Siritoitet, salah satu penggerak Sekolah Adat Arus Kualan, yang hadir dalam acara ini mengisahkan bahwa sekolah alam tersebut merupakan bentuk “perjuangan akar rumput” dalam mengajarkan kearifan lokal bagi generasi muda. Beberapa program utamanya adalah pembelajaran tarian tradisional, hingga pengenalan tentang obat tradisional.

“Para murid belajar langsung ke hutan, mengenali serta melihat secara langsung bagaimana bentuk tanaman obat, lalu mereka foto dan dokumentasikan. Kemudian mereka belajar kegunaan setiap tanaman yang penting bagi masyarakat, khususnya di kawasan Arus Kualan,” beber Martison.

Ia menambahkan bahwa murid di Sekolah Adat Arus Kualan juga belajar tentang cerita rakyat, kerajinan tangan, termasuk tentang suvenir-suvenir atau cenderamata.

“Semua kearifan-kearifan lokal diajarkan bukan dari orang-orang yang punya titel S1 atau S2, tetapi guru-guru yang merupakan orang lokal. Tetua-tetua adat kita yang punya pengetahuan tentang kearifan lokal, mereka kami jadikan sebagai tim pengajar di Sekolah Adat Arus Kualan ini,” singkatnya.

Jaga hutan ala Sekolah Adat Arus Kualan

Uniknya, Deliana menambahkan bahwa anak-anak di sekolah tersebut makin antusias menjaga alam usai menyimak lagu karya trio Laleilmanino dan kawan-kawan.

“Dengan lagu Dengar Alam Bernyanyi ini, anak-anak semakin semangat. Mereka menanam pohon-pohon dengan bernyanyi bersama saat mengadakan penanaman pohon bersama dengan tema ‘Bernyanyi di Hutan’. Anak-anak itu bersama-sama berjalan kaki langsung ke hutan,” tuturnya.

Upaya lain yang ditempuh, kata Deliana, adalah selalu menjaga dan menekankan apapun yang sudah diturunkan oleh nenek moyang. Salah satunya, dengan tidak membawa kantong berbahan plastik saat memasuki kawasan hutan.

“Ketika kami pergi ke hutan, kami harus membawa alat bernama tombing sebagai pengganti kantong plastik. Jadi kami tidak menggunakan bahan-bahan yang terbuat dari plastik yang bisa mencemari lingkungan,” jelas Deliana.

Sekolah Adat Arus Kualan pun mengajarkan anak-anak untuk menggunakan sendok dari kayu, daun untuk alas makan, serta bahan-bahan lainnya yang mudah terurai.

“Selain itu kami selalu memanfaatkan hasil alam secukupnya. Tidak menggunakan semuanya. Bagi kami, hutan itu adalah rumah kami, sungai itu adalah darah kami, dan hutan itu adalah minimarket gratis kami. Jadi kalau kami tidak menjaganya, maka minimarket kami punah. Tetapi kalau kami menjaganya, jadi minimarket kami itu tersedia dengan gratis,” beber dia.

Deliana juga mengungkapkan bahwa dukungan dana dari kampanye ini akan dimanfaatkan untuk membangun rumah di hutan. “Nanti kami akan membuat rumah kecil-kecilan untuk kegiatan menjaga alam sekitar. Kami juga akan membeli beberapa buku tentang alam. Anak-anak sekarang sedang meneliti tentang tanaman obat tradisional, kita akan bantu dengan donasi yang diberikan,” pungkas Deliana.

Inspirasi yang berkelanjutan

Dalam penyerahan donasi, Program Director Coaction Indonesia, Verena Puspawardani mengungkapkan bahwa aksi Laleilmanino adalah hal yang luar biasa. Ia pun meyakini bila langkah ini dapat menjadi inspirasi, bagi masyarakat maupun organisasi lainnya.

“Semoga aksi yang sudah dimulai ini juga tidak berhenti di sini, tetapi tetap menginspirasi teman-teman dari komunitas lainnya. Lagu ini juga pasti akan kami pakai untuk setiap langkah kami, dan menjadi pengingat bahwa ini adalah story yang sudah diramu dengan indah oleh Laleilmanino,” singkat Verena.

Nino juga berharap masyarakat tak hanya sekadar menikmati lagu Dengar Alam Bernyanyi, tetapi betul-betul mengaplikasikannya dalam hidup masing-masing. Ia mengajak masyarakat untuk lebih peka lagi terhadap sinyal atau alarm yang diberikan oleh Bumi, serta mengingatkan bahwa tiap individu punya tanggung jawab untuk membuat alam lebih sehat lagi.

“Kami di sini mencoba membuktikan bahwa apapun profesimu, apapun yang kamu tekuni, kita bisa memberikan sumbangsih untuk kemajuan perlindungan alam,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2023 Hutan Itu Indonesia. All Rights Reserved.
cross