Pertanian Selaras dengan Penjagaan Hutan
April 28, 2020
Hutan itu Kaya Rempah
June 5, 2020

#HutanituBeragam Refleksi Lima Tahun Laudato Si’

Tulisan ini merupakan cerita singkat dari kegiatan daring dalam Webinar “LIMA TAHUN ENSIKLIK LAUDATO SI: PERAN AGAMA BAGI PERAWATAN BUMI RUMAH KITA BERSAMA” yang diadakan oleh JPIC OFM. Ketiga narasumber yakni: Pater Mikael Peruhe, OFM, Gita Syahrani dari HUTAN ITU INDONESIA, dan Farid Ridwanudin dari KIARA. Pembaca dapat mengunduh materi Webinar dalam pranala (link) yang tersedia di bawah tulisan/ artikel ini.

JPIC-OFM adalah lembaga keagamaan Katolik, singkatan dari Justice, Peace, and Integration of Creation, atau dalam bahasa Indonesia berarti Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan yang menjadi rangkuman dari Spiritualitas Fransiskan. OFM Provinsi Indonesia sangat prihatin dengan kondisi kerusakan lingkungan hidup di zaman ini. Karena itu, pelayanan pastoral ekologi menjadi salah satu prioritas. JPIC-OFM Indonesia dalam kerjasama dengan lembaga-lembaga lain juga terlibat dalam persoalan-persoalan aktual untuk membela hak-hak masyarakat.

HUTAN ITU INDONESIA diwakili oleh pendirinya, mbak Gita Syahrani yang bekerja di Lingkar Temu Kabupaten Lestari, mengambil kesempatan kegiatan berbagi ini dengan menceritakan gerakan HII yang menyasar banyak ke anak muda di perkotaan dalam menjembatani akses informasi dan kampanye positif tentang pelestarian hutan di Indonesia. Dari berbagai masalah perusakan lingkungan termasuk hutan yang kita hadapi, kita harus tetap mempunyai cinta yang besar supaya selalu optimis dalam menjadi solusi, seperti setiap agama mengajarkan kita untuk mengedepankan cinta kasih dan kiranya agama dapat merangkai aksi bersama untuk menjaga hutan lebih aktif lagi.

HII juga sejak tahun 2018 membuat kampanye khusus untuk aktif mempromosikan narasi pelestarian hutan dalam perspektif semua agama di Indonesia, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghuchu. Kampanye tersebut bertajuk #HutanituBeragam. Karena layaknya keberagaman kepercayaan dan umat beragama di Indonesia, hutan hujan tropis juga menyimpan keanekaragaman hayati yang sangat kaya, indah, dan itu membuat kemegahan alam Indonesia. Kampanye ini akan terus berjalan, dan diharapkan dapat menjadi lebih besar atas kolaborasi-kolaborasi yang bisa dilakukan ke depannya secara lebih aktif. Seperti dalam Webinar ini yang diinisiasi oleh JPIC OFM Indonesia.

Dalam paparannya, Pater Mikael menerangkan kata-kata dan narasi kunci Paus Fransiskus dalam membuat Ensiklik Laudato Si’ ini. Sejak awal ensiklik tersebut telah mengatakan bahwa “kita adalah Bumi, we are Earth” (No. 2; lih. Alkitab Kej 2.7). Sangat sejalan dengan penyanyi dan penyair agung dari masyarakat adat Argentina, Atahualpa Yupanqui: “Manusia adalah Bumi yang berjalan, yang merasakan, yang berpikir, dan yang mencinta.” Peran Agama, menjadi pengingat (reminder), yang terus-menerus mencerahkan umatnya untuk sadar akan tanggung jawabnya dalam melestarikan lingkungan hidup. Karena saya yakin, tidak ada satu agama mana pun yang mengajari umatnya merusak ciptaan Tuhan secara sewenang-wenang. Salah satu peran penting Agama – menurut Alfred Rupert Sheldrake (saintis dan penulis banyak buku ilmiah) – adalah untuk membantu orang melihat “tanah” sebagai sesuatu yang sakral, yang tidak bisa diintervensi secara sembrono.

Bagaimana pun, semua agama menceritakan kisah tentang tempat kita dalam dunia, relasi kita dengan orang lain dan hubungan kita dengan dunia tempat kita hidup, baik saat ini maupun dunia akhirat (hubungan kita dengan bumi dan langit). Saya ingin menutup presentasi ini dengan mengutib Deklarasi Iman tentang Alam, atau disebut juga Deklarasi Assisi (29 September 1986), yang dibuat oleh para pemimpin agama dunia: “Kerusakan lingkungan hidup merupakan akibat dari ketidak taatan, keserakahan dan ketidak perduliaan (manusia) terhadap karunia besar kehidupan” (Buddha); “Kita harus, mendeklarasikan sikap kita untuk menghentikan kerusakan, menghidupkan kembali menghormati tradisi lama kita” (Hindu); “Kami melawan segala terhadap segala bentuk eksploitasi yang menyebabkan kerusakan alam yang kemudian mengancam kerusakannya” (Kristiani); “Manusia adalah pengemban amanah, berkewajiban untuk memelihara keutuhan ciptaan-Nya, integritas bumi, serta flora dan faunanya, baik hidupan liar maupun keadaan alam asli” (Islam). Laudato Si, mi signore – Terpujilah Engkau, Tuhanku!

Ketiga materi dari ketiga narasumber tersebut dapat diunduh dalam pranala berikut:

https://bit.ly/5tahunlaudatosi.