Dipublikasikan oleh admin pada 07 Aug 2025

Menyambut Hari Hutan Indonesia 2025, Hutan Itu Indonesia bersama Youth Hub Fun Hutan, Jejak Si Hutan dan 32 sukarelawan menanam 3.300 mangrove di Pulau Pari pulau kecil yang indah, namun rawan tenggelam.
Pulau Pari, Kepulauan Seribu, mungkin terlihat tenang. Pasirnya putih. Airnya jernih. Tapi di balik keindahan itu, pulau kecil ini tengah menghadapi krisis.
Menurut Koalisi Save Pulau Pari (2023), jika tidak ada upaya nyata untuk melindungi ekosistem pesisir, Pulau Pari bisa tenggelam pada tahun 2050 akibat krisis iklim.
Melihat urgensi itu, pada Sabtu, 2 Agustus 2025, 3.300 bibit mangrove Rhizophora di pesisir Pulau Pari ditanam. Aksi ini merupakan bagian dari rangkaian acara Forest For Rest menyambut Hari Hutan Indonesia 2025, yang mengangkat tema “Suara Hutan, Nadi Kehidupan.”
Mangrove dikenal sebagai tanaman penyerap karbon andal dan pelindung pesisir dari abrasi. Satu pohon Rhizophora dapat menyerap hingga 308 kg CO₂ sepanjang hidupnya (Conservation International). Maka, menanam mangrove bukan sekadar aktivitas simbolik tapi kontribusi nyata melawan perubahan iklim.
Kegiatan ini juga didukung oleh Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, serta Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) sebagai bentuk kontribusi nyata dalam upaya pencapaian Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.

Aksi tanam mangrove ini tak lepas dari keterlibatan komunitas Perempuan Pulau Pari, sekelompok ibu yang menjadi ujung tombak perlawanan terhadap krisis lingkungan dan tekanan dari pihak luar.
Mereka tak hanya merawat pohon dan laut, tapi juga menjadi narasumber, pembimbing, dan penjaga semangat seluruh peserta. Sebanyak 18 ibu terlibat langsung membimbing penanaman di Pantai Rengge, lokasi utama kegiatan Forest For Rest tahun ini.
“Kami dengar dari peneliti bahwa Pulau Pari akan tenggelam di tahun 2050. Menanam mangrove adalah cara kami melindungi Pulau Pari, setidaknya lebih lama.”
— Teh Aas, Perempuan Pulau Pari

Forest For Rest bukan hanya tentang menanam pohon. Tapi juga tentang menyentuh kembali akar kehidupan. Setelah aksi penanaman, para peserta diajak menyusuri hutan mangrove dan padang lamun dua ekosistem yang terhubung dan menopang 75% spesies laut tropis (UNEP, 2020).
Suasana sunyi, hembusan angin, dan aroma laut jadi pengalaman yang menyentuh mengingatkan bahwa hutan bukan sekadar ruang hijau, tapi juga ruang pulih.
Aksi di Pulau Pari adalah pengingat bahwa hutan termasuk hutan pesisir yang merupakan nadi kehidupan. Suaranya bisa lembut, namun membawa pesan kuat yaitu lindungi, rawat, dan pulihkan.
Mari terus jaga suara hutan dari akar, dengan langkah nyata dari mana pun kita berada.
Selamat Hari Hutan Indonesia 2025
Suara Hutan, Nadi Kehidupan
Terima kasih Hutan Itu Indonesia karena sudah memberikan saya kesempatan untuk menjadi bagian dari niat baik ini🩷