Hore Hutan 26 "Forest Folklore" Cerita Suku Anak Dalam

Dipublikasikan oleh admin pada 25 Aug 2020

Kak Tri Astuti atau biasa disebut ka Tuti adalah pengajar dari Sokola Institute, punya pengalaman mengajar bersama suku anak dalam Jambi, Bermula dari informasi yang didapat dari seorang kawan dan berbekal suka berpetualang kak Tuti bergabung dengan sokola institute dan mengajar pertama kalinya di pedalaman bersama orang rimba.

Hutan yang disambangi dan ditinggali selama mengajar adalah kawasan hutan tropis dengan kombinasi tanaman buah-buahan, area kawasan tersebut dikelilingi perkebunan sawit dan karet. 

Selama tinggal bersama suku anak dalam, kak Tuti mengajarkan kepada anak-anak rimba tiga metode utama sesuai dengan kurikulum dari Sokola Institute yakni literasi dasar (baca, tulis, hitung); literasi lanjutan, yaitu memahami sesuatu, misalnya tentang taman nasional; dan literasi terapan, yang mana mereka diajarkan untuk lebih mengenal dan menjaga daerah tempat tinggal mereka, seperti tentang peraturan di taman nasional, serta pohon mana saja yang diutamakan harus dilindungi karena dapat menyerap karbon lebih banyak.

Beberapa ciri khas yang dimiliki Orang Rimba berdasarkan pengalaman kak Tuti tinggal bareng suku anak dalam:

  1. Melangun, yaitu berpindah-pindah selama masa tertentu ketika ada anggota keluarga yg meninggal. Semakin tinggi kedudukan almarhum, semakin lama dan jauh prosesnya.
  2. Tanah Pranoon, yaitu tempat yang memiliki pepohonan rimbun untuk ibu melahirkan. Jadi, saat ada bayi lahir, akte/penanda kelahirannya adalah pohon. Ari-ari bayi akan dikubur dan dipagar dengan akar sentubung. Ada juga pohon senguri, yang kulit kayunya dihaluskan untuk dipakai di ubun-ubun bayi. Kedua pohon tersebut tidak boleh ditebang dan dibiarkan tumbuh.
  3. Hidup dengan berburu, meramu, mengambil madu hutan, dan bertanam di ladang. Anak-anak berusia 3-5 tahun sudah bisa memilah pohon yang boleh dan tidak untuk ditebang. Bagi mereka, hutan adalah sumber kehidupan.
  4. Tidak mengenal tulisan, semuanya disampaikan secara lisan. Karena itu, guru-gurunya wajib belajar bahasa rimba.
  5. Pantang memakan hewan ternak karena mereka menganggap ternak sudah dirawat dan diberi makan sehingga tidak tega kalau dibunuh.
  6. Hukum masyarakat adatnya sangat adil. Ketika ada konflik antarsesama Orang Rimba yang sudah cukup parah, artinya harus dihukum secara negara. Mereka akan mencari tahu hukumannya apa. Pihak Sokola akan memberi tahu. Pendapat anak-anak dan ibu-ibu juga turut didengarkan saat rapat adat.
  7. Punya sikap toleransi yang sangat tinggi. Jika ada tamu, mereka akan menjaga dan melindungi tamunya. Mereka juga suka berbagi.
  8. Tidak menggunakan sabun. Berhubung air di sana dapat langsung dikonsumsi, kontaminasi sabun dengan air di sana dapat menimbulkan penyakit. Selain itu, jika memakai sabun artinya akan menimbulkan bau sabun. Nah, bau sabun itu akan menyulitkan hewan buruan untuk ditangkap karena hewan sudah mencium baunya.
  9. Suku Anak Dalam memiliki keyakinan dan berdoa sesuai dengan keyakinannya, juga para perempuan tabu untuk difoto. Seandainya ada anggota suku yang terinfeksi penyakit dari luar, mau ga mau harus berobat ke luar. Sokola sendiri sudah dilatih protokol penanganan kesehatan. Dinas kesehatan/puskesmas juga bisa masuk ke sana.
  10. Ada social distancing-nya juga loh, namanya Besesandingon. Mereka menutup diri dari orang luar untuk waktu tertentu.

Masyarakat adat Suku Anak Dalam menggambarkan kepada kita yang tinggal diperkotaan dalam hal-hal menjaga lingkungan dan mengelola sumber daya alam dengan bijak sesuai dengan

 

Kita yang tinggal di kota belajar banyak pada nilai-nilai yang dimiliki masyarakat adat suku anak dalam, seperti hal-hal toleransi, harmonisme, dan pengelolaan yang bijak pada sumber daya alam, mereka sudah menerapkan hal-hal itu sejak leluhur dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan, kita yang tinggal di kota seharusnya meniru masyarakat suku anak dalam karena mereka sudah maju dalam

Ada cerita lucu yang kak Tuti alami. Jadi, suatu hari kak Tuti bareng anak-anak bikin rumah yang seperti rumah orang-orangan sawah. Nah, anak-anak rimba sekitar usia 10 tahunan  bisa membuatnya hanya dalam waktu 15 menit, sedangkan kak Tuti tidak berhasil walaupun sudah mencoba seharian (Karuna Devi). 

Filosofi Orang Rimba: “Mereka akan bahagia ketika semua orang bahagia dan menerima dengan sama rata”

  • Sokola Institute sendiri didirikan tahun 2003 oleh Butet Manurung dan empat orang rekan pendidiknya, SOKOLA memberikan kesempatan pendidikan bagi masyarakat adat Indonesia. SOKOLA menggunakan metode praktis membaca-menulis-menghitung. Tujuannya adalah untuk mengintegrasikan pendidikan ke dalam struktur komunitas tertentu, sesuai dengan adat istiadat setempat yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari mereka. Misi dari organisasi nirlaba ini adalah mempersiapkan masyarakat yang terpinggirkan untuk menghadapi tantangan dunia modern yang terus merambah. Saat ini, SOKOLA sudah menjangkau belasan komunitas di seluruh Indonesia, menghadirkan literasi kepada lebih dari 10.000 individu, baik anak-anak maupun orang dewasa
Copyright © 2021 Hutan Itu Indonesia. All Rights Reserved.
cross