Cerita Dari Hutan Papua

Dipublikasikan oleh admin pada 17 Sep 2020

Seorang warga Kampung Sira berdiri di antara pepohonan di dalam Hutan Sira, Sorong Selatan (Foto: EcoNusa Foundation/ Moch. Fikri)

Perayaan ‘Hari Hutan Indonesia’ kembali dirayakan melalui Festival Cerita Dari Hutan. Sesi pertama pada Minggu, 13 September 2020 ini mengajak kita untuk mengenal lebih jauh mengenai Hutan Papua, bersama dengan narasumber Aloysius Numberi dari Program Associate Econusa dan Dezius Woloin dari Pemuda Knasaimos dan Relawan Bentara Papua.

Kaimana, salah satu wilayah di Papua Barat yang masih memiliki hutan dengan luas 1.7 juta hektar lebih, ternyata masih terdapat 67% hutan rimba. Dengan luas sebesar itu, di sana hidup berbagai jenis flora dan fauna. Ada 600 jenis tumbuhan, 30 jenis amfibi, 100 lebih species jangkrik, dan lainnya yang luar biasa. Salah satu species yang menarik di Kaimana yaitu Bower Bird di Manokwari, yang bisa membuat rumahnya sendiri. Selain itu, ada juga hutan mangrove yang menjadi tempat hidup bagi kepiting dan udang

Menurut Aloysius, peran serta masyarakat dalam menjaga hutan tercermin dari cara mereka berpikir. Mereka tidak memandang alam semesta dengan menempatkan manusia sebagai pusat dari alam semesta, namun sebagai salah satu unsur semesta yang berkorelasi dengan kehidupan spiritual dan kerohanian.

Bahkan mereka mewujudkan doa dan rasa syukurnya melalui upacara tradisional bernama Sinara, yang menjadi simbol permohonan izin masyarakat kepada leluhur sebelum melakukan sesuatu. Upacara ini bisa kita temui di Kambala dengan menyuguhi sirih, pinang, beras, rokok, dan uang logam. Tak hanya itu, Sinara juga dihidangkan dengan piring putih dan dibalut kain. Layaknya kegiatan persembahan di daerah lain, jika masyarakat tidak melakukan upacara ini, maka diyakini akan terkena hukuman dari leluhur.

Peran serta masyarakat juga tercermin ketika terdapat aturan yang tidak memperbolehkan mereka untuk melakukan aktivitas di daerah terlarang seperti di Teluk Bicari. Setelah ditelusuri, aturan tersebut dibuat karena Teluk Bicari menjadi tempat hidup Cendrawasih. Selain itu, masyarakat Papua terbilang cukup memiliki kesadaran yang tinggi mengapa mereka harus menjaga hutannya.

Ada banyak sekali hasil hutan yang sangat multifungsi bagi mereka, mulai dari makanan, obat-obatan, bahan baku, kerajinan, dan semua yang memberikan kehidupan bagi mereka, menjadikan mereka sadar bahwa Hutan Papua benar-benar harus dijaga dan hanya bisa mereka ambil sesuai dengan kebutuhan. Bila tidak, tentu kehidupan mereka juga akan terancam.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Dezius Woloin, selain memberikan mereka kebutuhan primer, hutan juga memberikan banyak sekali jasa lingkungan, baik sebagai sumber mata air, udara sejuk, hingga pemandangan indah. Dia juga mengungkapkan bahwa masyarakat Knasaimos, tempat dia tinggal, juga sudah membuat berbagai peraturan untuk menjaga hutannya mulai dari melakukan pemetaan wilayah adat marga, menolak investasi sawit dan perusahaan kayu, melakukan pertanian berkelanjutan, hingga penaman pohon.

“Siapa saja, dari mana saja, suku mana saja yang mengajak ‘Mari Kita Jaga Hutan’ itu saudara saya.”, tuturnya saat closing statement.

Ditulis: Putri Hana Syafitri

Copyright © 2021 Hutan Itu Indonesia. All Rights Reserved.
cross